Bos PAM Jaya: Vendor Pipa Mulai Angkat Tangan Imbas Perang Iran – Konflik berkepanjangan di Timur Tengah berdampak pada proyek air bersih di Jakarta. Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin, mengungkapkan kesulitan yang dihadapi para vendor. Sejumlah vendor penyedia pipa mulai kesulitan memenuhi komitmen pasokan. Gangguan rantai distribusi global menjadi penyebab utamanya.
Baca Juga: PAM Jaya Minta Rumah Terhubung PDAM Setop Pakai Air Tanah: Ini Langkah & Target 100%
“Beberapa vendor mulai ‘angkat tangan’. Mereka tidak bisa mengirim barang tepat waktu. Bahan baku pipa macet di jalur distribusi. Mereka kesulitan mendapatkan bahan baku dan komponen impor. Blokade perdagangan akibat perang Iran memperparah situasi,” ujar Arief dalam keterangannya, Kamis (30/4/2026).
Rantai Pasok Global Terganggu
Konflik Iran-AS berlangsung sejak serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Iran memperketat kendali atas Selat Hormuz sebagai balasan. Selat ini menjadi jalur vital bagi sekitar 20 persen minyak dunia. Berbagai komoditas industri juga melintas di sana, termasuk bahan baku pipa PVC dan HDPE. Indonesia masih mengimpor bahan baku tersebut.
Arief menjelaskan dampak gangguan ini terhadap target PAM Jaya. Perusahaan menargetkan 100 persen layanan air perpipaan di Jakarta pada 2029. “Vendor memberi tenggat waktu yang tidak bisa dipenuhi. Padahal kita punya target kejar-kejaran waktu. Pipa tidak kunjung datang. Ini jelas mengganggu percepatan pembangunan infrastruktur,” tegasnya.
Target 7.000 Kilometer Pipa Baru Terancam
PAM Jaya tengah membangun 7.000 kilometer pipa baru. Proyek ini tersebar di berbagai ruas jalan ibu kota. Targetnya mempercepat peningkatan cakupan layanan. Hingga Maret 2026, cakupan layanan pipa PAM Jaya baru mencapai 81,45 persen. Capaian ini meningkat signifikan dari 71,59 persen pada triwulan I-2025.
Sisa sekitar 18 persen ini menjadi bagian terberat. Pengerjaannya membutuhkan material dalam jumlah besar. Tanpa solusi cepat, proyek ini berpotensi mangkrak di tengah jalan. PAM Jaya juga terpaksa menggunakan pipa produksi lokal. Namun kualitasnya diragukan karena termasuk “kelas kedua” dan daya tahannya lebih rendah.
PAM Jaya Cari Alternatif
PAM Jaya tidak tinggal diam menghadapi situasi ini. Perusahaan mencari sumber pasokan alternatif. Mereka juga melakukan negosiasi ulang dengan vendor lain. Selain itu, PAM Jaya menggencarkan teknologi water purifier. Teknologi ini membantu masyarakat mendapatkan air minum layak. Infrastruktur perpipaan yang belum terpasang menjadi tantangan tersendiri.
“Ini risiko global yang tidak bisa kita hindari. Semua negara terkena dampaknya. Kita berharap konflik segera reda agar distribusi normal kembali,” pungkas Arief.
